Ahmad Muhsin

Ahmad Muhsin, pria kelahiran Boyolali, 5 April 1988 adalah lulusan FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta jurusan Bahasa Inggris. Lulus kuliah, mengabdikan dir...

Selengkapnya
Momo, Sapi Lucu Kesayangan

Momo, Sapi Lucu Kesayangan

“Momo dimana yanda?” tanya anak-anak siang itu. Pertanyaan yang mulai akrab terdengar di telinga saya sejak beberapa hari terakhir ini. Sejak kehadirannya di hari pertama saya mengajar ketika itu, sosok Momo mendadak menjadi artis sekolah yang selalu dicari-cari oleh siswa-siswi saya. Banyak anak-anak yang antusias dan ingin berkenalan dengannya. Mereka pun saling berebut untuk bercakap-cakap, mencium, dan berjabat tangan.

Satu hari tentulah waktu yang singkat untuk melakukan perkenalan. Meski demikian, anak-anak sudah merasa begitu dekat dengan Momo. Antusiasme tergambar jelas di wajah mereka. Pertanyaan demi pertanyaan pun terlontar. Sebagian besar mereka tujukan kepada Momo. Sekali dua kali saya turut menambahkan jawaban dalam bahasa Indonesia. Karena Momo tidak bisa berbahasa Indonesia.

Pertanyaannya sekarang, siapa sebenarnya sosok MOMO? Mengapa dia mendadak menjadi primadona di tengah siswa-siswa saya? Baiklah, Momo adalah karakter boneka sapi yang saya ciptakan. Dia punya gaya tertawa yang khas dengan suara cemprengnya. Wajah imut dipadu warna rambut hitam dan putih menambah kesan lucu bagi mereka yang melihatnya.

“He is Momo. His full name is Momo Cow. Comin’ from the Wonderful Island. He can’t speak in Bahasa. So, please talk to him in English” Demikian saya memperkenalkan Boneka sapi yang kini menjadi partner saya dalam mengajar bahasa inggris di sekolah.

“Now, your turn, sir! Here you’re.”ucapku mempersilakan.

Thank you, sir.”

Ehm.. ehm.. Assalamu’alaikum, everyone. What a beautiful day! Nice to see you.” Ujar Momo memulai perkenalan. Suara cemprengnya sontak membuat anak-anak tertawa lepas.

“Nice to meet you too, Momo” Jawab mereka serempak.

“Okay, my dude. My name’s Momo. I’m 2 years old. And I’m the cutest cow in the world. Ha..ha..ha..” ungkap momo diiringi dengan tawa khasnya.

“Starting today, I’ll like to be his parther to teach English. Having fun, ya” imbuhnya. Tidak butuh waktu lama bagi Momo untuk menjalin keakraban dengan para siswa. Setelah berkeliling dan berkenalan satu per satu, canda tawa pun mewarnai kelas pertama kami.

Mereka semakin dibuat gemes dengan tingkah Momo yang lucu dan sedikit usil. Sontak, anak-anak itu berebut mencubit pipi momo, mengelus-elus kepala dan memegang tangan dan kaki Momo. Ya, Momo benar-benar tengah menjadi artis di sekolah tempat saya mengajar. Setiap anak-anak berjumpa dengan saya, maka yang ditanyakan pertama kali adalah, “Yanda, Momo dimana?” “Besok Momo masuk kelas lagi kan yanda?” “Aku gemes sama Momo” dan masih banyak kesan-kesan lain yang mereka ungkapkan kepada si kecil Momo.

Saya tidak menyangka, respon anak-anak akan sedemikian antusiasnya pada karakter boneka yang saya mainkan. Saya bukan pendongeng bukan pula pembicara yang baik. Menghadirkan karakter Momo adalah kenekatan yang saya buat. Bahkan saya masih bingung menentukan karakter momo akan seperti apa di depan anak-anak. Beberapa menit sebelum kelas dimulai, saya masih mencoba-coba mencari suara yang akan saya pakai untuk mengisi karakter boneka sapi itu.

Bel tanda masuk telah berbunyi. Saya masih berusaha mencari suara yang pas untuk karakter boneka yang saya bawa. Nekat adalah modal utama yang saya pegang. Berbekal keyakinan dan do’a. saya pun masuk kelas pertama saya bersama boneka sapi bernama Momo.

Akhirnya kubiarkan momo menemukan karakternya sendiri di tengah anak-anak. Ketika pertama kali saya memperkenalkan Momo kepada para siswa, respon mereka sungguh luar biasa. Meski saya menyadari, saya masih sering kali menemukan kebingungan dalam membagi peran dengan karakter Momo. Namun, melihat murid-murid saya begitu antusias dengan kehadiran Momo ditengah-tengah mereka, membuat saya semakin bersemangat untuk selalu mengajak boneka tangan ini turut serta dalam mengajar bahasa inggris. Suasana yang demikian ini pula lah yang akhirnya membentuk karakter momo. Dan Momo pun menemukan jati dirinya. Seekor sapi yang periang, bersuara cempreng, banyak tingkah, dengan gaya tertawa yang khas dan tentu saja suka bercanda dengan anak-anak. Ini pulalah yang akhirnya menjadikan anak-anak selalu mengelu-elukan Momo dan selalu menantikan kehadirannya saat pelajaran bahasa inggris.

Ya, Momo memang hanyalah boneka sapi. Aktivitasnya terbatas. Namun kehadirannya ditengah-tengah kami memberikan nuansa berbeda dalam pembelajaran yang berjalan selama ini. Anak-anak bisa belajar berbicara bahasa inggris tanpa beban. Mereka berbicara dengan momo dengan penuh antusias. Saya tidak lagi harus sering-sering mengeluarkan nada keras saya untuk menenangkan anak-anak yang asyik dengan mainan mereka sendiri. Mereka kini punya teman baru yang lucu. Meski karena tingkah konyolnya, Momo harus mendapat berbagai julukan dari anak-anak. Momo crazy, Momo badut, Momo imut, dan julukan-julukan lain yang mendarat ditelinga saya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali